Mengenal Pribadi Barkati yang Rendah Hati (7)

Kami sempat membayangkan bahwa pasca pengumuman penundaan resepsi pernikahan puterinya, pak Barkati akan menghilang beberapa saat. Menenangkan diri dan mencoba memulihkan kekecewaan.

Tapi ternyata tidak. Esok paginya kami ditelpon oleh salah seorang kerabat pak Barkati untuk sama-sama ngumpul di lokasi acara, sekalian menemani pak Barkati menyambut tamu yang belum tahu kalau acara dibatalkan. Namun karena kebetulan kami sedang ada yang dikerjakan kami minta izin untuk absen, dan kalaupun datang mungkin agak terlambat.

Namun kemudian kami memang batal ke tempat acara, karena ternyata kegiatan kami selesai agak siangan. Kami paham rencananya pak Barkati tidak terlalu lama juga disana, beliau hanya menunggu mereka yang terlanjur datang. Sebentar kemudian pak Barkati akan berkeliling membagikan makanan ke berbagai panti sosial dan pesantren.

Semakin kagum kami dengan pak Barkati, ternyata beliau lebih kuat dari yang kami duga. Ya, kami yang bisa dibilang cukup akrab dan dekat dengan beliau saja masih bisa salah duga apalagi mereka yang tidak mengenal beliau dan hanya tahu namanya dari media sosial.

Kami tahu sekali bahwa beliau seorang yang memiliki pemahaman tasawuf yang bagus. Beliau sering sekali bercerita soal hakikat kehidupan dan kesadaran diri. Berdiskusi soal sabar, kerendahan hati dan hakikat jabatan yang merupakan amanah untuk mengayomi rakyat. Ternyata beliau tak hanya pandai bicara, apa yang ditunjukannya dalam tindakan nyata benar-benar sejalan dengan ucapanya.

Demikian pula malam saat mengumumkan penundaan acara. Kalimat beliau yang mengatakan bahwa tidak sangkal (ganjalan di hati), lalu soal harta yang tidak ada nilainya. Kami pikir itu hanya basa-basi untuk menutupi kekecewaan semata. Sehingga kami sempat khawatir selesai jumpa pers itu beliau pulang ke rumah dan mengurung diri beberapa waktu.

Subhanallah, ternyata kami salah duga. Ternyata beliau tidak seperti yang kami duga. Beliau pagi-pagi sudah berada di tempat acara mengarahkan panitia, menunggu undangan yang terlanjur datang dan menjelaskan kondisi yang sedang dihadapi sambil menjamu tamu sekedarnya dan berbincang tanpa beban. Padahal kami tahu beban beliau sangatlah berat.

Nah, sambutan penuh kekeluargaan inilah yang kemudian dipelintir sebagian orang dan diviralkan dimedsos dengan narasi yang terkesan bahwa pak Barkati tetap menggelar pesta, hanya merubah namanya menjadi acara “Silaturahmi”. Inilah yang kemudian sempat membuat sedikit polemik. Namun alhamdulillah semua bisa deselesaikan dengan baik dan penuh kedamaian.

Padahal jika orang mau berpikir jernih tentu bisa membandingkan jumlah tamu yang terlanjur hadir itu dengan undangan yang telah beredar. Misalkan yang datang pagi itu 5 persennya saja, bukankah seharusnya sudah mencapai 2.500 orang? Namun faktanya hanya ada ratusan orang yang datang.

Itu juga termasuk keluarga dan panitia yang sedang berbenah dan yang sekedar memberikan suport pada pak Barkati. Ya, mungkin tidak ada 1 persennya dari jumlah undangan yang terbagi. Ini sangat wajar sekali. Dan tak masuk akal kalau dianggap hanya merubah nama acara. Faktanya acara resepsi memang tidak ada.

Sungguh ujian ini begitu berat sebenarnya, namun pak Barkati tampak tenang menghadapinya. Beliau dengan tersenyum dan seolah tanpa beban berkeliling ke panti-panti dan pesatren membagikan makanan yang direncanakan buat resepsi. Bahkan wajah beliau tampak sangat sumringah ketika disambut oleh para santri dan anak-anak yatim yang begitu gembira mendapat rejeki Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tangan pemimpinnya.

Dengan pengorbanan pak Barkati yang sedemikian berat, toh masih saja ada orang yang tega menyerang beliau dengan fitnah yang keji. Andai saja kami pribadi yang mengalami itu belum tentu akan mampu sesabar pak Barkati.

Sampai-sampai kami sempat berpikir seandainya benar yang dituduhkan orang selama ini bahwa pak Barkati itu adalah preman atau bos preman, tentulah para pencela dan pemfitnah itu sudah mengalami hal yang tidak diinginkan. Namun pak Barkati, sekali lagi tidak seperti yang dituduhkan orang. Beliau adalah sosok yang lembut dan bersahaja. Beliau seorang yang penyayang. Sehingga tak bakalan beliau berbuat keji.

Kemudian, hari senin dan selasa saat tulisan ini akan diposting, kami saksikan pak Barkati tidak berlibur, beliau tetap melayani rakyatnya. Memimpin dan melakukan sendiri penyemprotan disinfektan di beberapa tempat di kota Samarinda. Hari-hari beliau berjalan sebagaimana biasa. Hanya terlihat beberapa ungkapan untuk sang buah hati beliau posting di media sosialnya. Selebihnya? Barkati tetap menjalani rutinitasnya sebagai pemimpin yang bekerja, berkarya dan berbakti.

Semoga segala cobaan yang menimpa beliau dan keluarganya ini membawa hikmah yang besar bagi kesuksesan beliau, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Sebagaimana yang juga beliau katakan harta dunia ini tidak ada nilainya.

Nilai yang terbesar itu adalah ketika beliau mampu berguna bagi orang banyak dalam rangka hubungan dengan sesama manusia, dan bertaqwa di Mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Insya Allah.

Wallahu a’lam